Seorang Warga Dukuh Tumbu Wakafkan Tanah Untuk TPQ

Era Jateng
Selasa, 21 April 2020, 04:54 WIB Last Updated 2020-04-20T21:54:04Z

ERA JATENG ■ Dalam situasi serba sulit akibat dampak pandemi Corona yang sedang melanda hampir di seluruh penjuru dunia, masih ada hamba Allah yang berhati mulia dengan mewakafkan sebidang tanahnya untuk pencerahan umat.

Langkah itu dilakukan justru jelang bulan ramadhan, sebagai bentuk rasa syukur terhadap kemurahan dan nikmat yang telah dia dapat atas karunia-NYA.

Lalu siapakah pria yang berhati mulia itu? Ia adalah seorang bapak dari tiga orang anak dan satu orang istri bernama Kardo, warga RT 38/09 Dukuh Tumbu, Desa Pulosari, kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Ia dengan rela dan ikhlas mewakafkan sebidang tanahnya, berupa pelataran rumahnya untuk dijadikan Taman Pendidikan Al Qur'an (TPQ).

Dengan rendah hati, Kardo tak menyebutkan alasannya. Baginya, mungkin, anak-anak dan para santri yang ingin belajar ilmu agama  perlu tempat dan fasilitas yang memadai. Terlebih saat ramadhan nanti, tempat mengaji, tadarus dan menimba ilmu agama sangat dibutuhkan warga. 

Atas kemuliaan hati Pak Kardo, para pemuda dan tokoh masyarakat langsung merespon niat itu, selanjutnya menindak lanjuti penyerahan wakaf tersebut dengan suka cita.

Spontan perencanaan pun disusun untuk mencari kesepakatan tanpa rapat hanya dengan perbincangan biasa  terjadilah goal unik.

Disepakati pembangunan gedung yang diperuntukan sebagai tempat belajar pendidikan berbasis Islam langsung dimulai. Kekompakan warga Dukuh Tumbu yang terkenal solid menjadi modal utama mewujudkan harapan tersebut.


Terbukti, sejak penyerahan tanah wakaf pada awal April, beberapa Minggu yang lalu, sekarang 20 april 2020, proses pembangunannya sudah mencapai 35 % pengerjaan terealisasi.

Pengerjaannya mungkin tidak secepat biasanya, dikarenakan penerapan physical distancing harus di laksanakan, maka pembatasan peserta gotong royong (kerja tanpa mengharap upah) juga dibatasi 20 orang maksimal tiap harinya.

Segala kebutuhan material bangunan, konsumsi dan lain-lain yang terkait dengan bangunan tersebut hasil pemberian warga tanpa di target, tidak pula di tarik, apa lagi dipaksa semua dengan suka rela dan ikhlas termasuk pewakaf sekeluarga juga ikut ambil bagian di kegiatan itu, ucap Sabar salah satu penggiat dan penggagas pembangunan TPQ tersebut.

Dia menyebutkan, ada santri di wilayah RT 38 sudah mencapai diatas 40 orang anak.

Selama ini, kata dia, rumah ustadz menjadi tempat mengaji setelah ashar sampai selepas isya, istirahat dan meski terkesan mengganggu kegiatan sang tuan rumah.

Disertai pertimbangan peningkatan dan pertumbuhan jumlah penduduk secara pesat, demi meningkatkan proses belajar-mengajar di bidang keagamaan (Islam) tercetuslah ide dan gagasan ini, ujarnya.

Lalu berembug dengan keluarga hingga melahirkan keputusan untuk mewakafkan tanah pelatarannya seluas lima lokal yang berukuran 4x6m plus akses masuk ke lokasi, ucap pewakaf, saat di konfirmasi.

Menurutnya, 5 orang ustadz sudah dipersiapkan untuk membimbing para santri yang berasal dari kawasan RT setempat dan tidak menutup pintu bagi orang tua yang ingin menitipkan anak anaknya di TPQ Arrohman Arrohim, untuk dididik di bidang keagamaan dan ilmu umum.

Sementara itu, Fasluki Hamami, salah satu ustadz alumnus IAIN Jakarta Selatan, membenarkan pula bahwa ustadz Hamzah yang selama beberapa tahun lalu hingga sekarang  rumahnya di jadikan tempat mengaji oleh para santri yang sekarang sedang di buatkan tempat baru demi peningkatan mutu dan kwalitas pendidikan yang lebih baik itu.

■ Himawan
Komentar

Tampilkan

Berita Terbaru