Suka Kuliner Guguk? Ini Bahayanya Konsumsi Daging Anjing Bagi Kesehatan - ERA JATENG

Kamis, 05 Desember 2019

Suka Kuliner Guguk? Ini Bahayanya Konsumsi Daging Anjing Bagi Kesehatan

 Suka Kuliner Guguk? Ini Bahayanya Konsumsi Daging Anjing Bagi Kesehatan

15 Daerah Berguru pada Suku Kajang, Peserta melihat langsung kehidupan masyarakat Kajang  Bulukumba - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi fasilitasi perwakilan dari 15 daerah untuk berguru ke Suku Kajang, kecamatan kajang kabupaten Bulukumba. Rabu (4/12/2019).  Perguruan ke Suku Kajang dilakukan dengan kunjungan lapangan sebagai ajang berbagi implementasi praktek baik yang diterapkan dalam menjaga adat serta tradisi. Peserta bisa melihat langsung kehidupan masyarakat Kajang.  Peserta terdiri dari elemen pemerintah daerah serta tokoh adat dari 15 daerah yang sedang dalam proses penyusunan Peraturan Daerah tentang pengakuan komunitas adat. 15 (lima belas) daerah tersebut yaitu: Raja Ampat, Kepulauan Aru, Halmahera Tengah, Majene, Sumba Timur, Sikka, Lombok Timur, Lombok Utara, Hulu Sungai Tengah, Barito Utara, Murung Raya, Lampung Timur, Indragiri Hulu, Kampar, dan Tobasa.  Masyarakat Kajang hidup dengan menjunjung tinggi 3 (tiga) aturan yaitu hukum adat, aturan agama, serta hukum negara.  "Hutan adalah sumber kehidupan," tegas Ammatoa.   Hukum adat dalam Suku Kajang sangat menghormati alam. Sebagai contoh, yang termasuk pelanggaran berat yaitu masyarakat tidak boleh menebang pohon, tidak boleh menggangu lebah, dan tidak boleh mengambil ikan tanpa ijin. Hukuman atas pelangaran berat yakni denda 12 real (senilai dengan 12 juta) dan denda 12 meter kain kafan.  Adapun, contoh aturan adat yang paling dasar dan berlaku sehari-hari yaitu masyarakat Kajang menggunakan pakaian serba hitam, serta tidak menggunakan alas kaki.(Aidil)

ERAJATENG.COM ■ Anda tentu pernah mendengar istilah 'B1' atau 'RW'? Kedua istilah merujuk pada makna daging anjing.

B1 atau 'biang' berasal dari bahasa Batak, sedangkan 'RW' merupakan singkatan dari 'rintek wuuk', yang dalam bahasa Manado berarti 'bulu halus' alias eufemisme untuk menyebut anjing. Istilah ini kerap terpampang di rumah makan tertentu sebagai pilihan menu.

Beberapa orang menganggap daging anjing punya kenikmatan sendiri. Berdasarkan data yang dihimpun beberapa tahun terakhir, sebanyak 7 persen masyarakat Indonesia masih menjadikan daging anjing sebagai bahan pangan mereka. Padahal, sesungguhnya anjing tak layak dikonsumsi.

Kasubdit Peningkatan Mutu dan Kecukupan Gizi Kementerian Kesehatan, Galopong Sianturi, mengatakan bahwa daging anjing memiliki kandungan natrium yang tinggi.

"Dia (daging anjing) bisa menjadi pembawa cacing pita," ujarnya dalam selebrasi sejuta tanda tangan untuk petisi Dog Meat Free Indonesia di Hotel Morrissey, Jakarta, Senin (5/11).

Kandungan natrium yang tinggi, disebut Galopong, dapat memicu hipertensi. Dalam 100 gram daging anjing, terdapat 1,06 miligram natrium.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan konsumsi natrium tak lebih dari 2 miligram per hari. Artinya, konsumsi daging anjing ditambah asupan natrium dari sumber makanan lain per hari yang tinggi bisa meningkatkan risiko hipertensi.

Layaknya daging babi, daging anjing juga merupakan pembawa cacing pita. Cacing jenis ini merupakan salah satu parasit buat tubuh manusia. Cacing yang juga dikenal dengan nama Cestodes ini memiliki tubuh rata, menyerupai pita, dan beruas-ruas. Cacing pita dewasa dapat tumbuh hingga 25 meter.

Cacing pita dapat mati jika daging dimasak sempurna. Namun, bukan berarti risiko buruk berhenti mengintai. Sebab, bisa saja daging anjing diolah dengan cara yang tidak higienis.

Cacing pita yang masuk ke tubuh bisa menimbulkan infeksi pada usus. Sedangkan cacing yang dapat keluar dari area pencernaan dapat masuk ke jaringan tubuh atau organ lain dan menyebabkan infeksi.

Di luar area pencernaan itu, cacing bakal membentuk 'markas' di jaringan baru. Komplikasi pada jaringan di luar usus seperti ginjal, jantung, dan otak inilah yang berbahaya.

Kesadaran akan kesejahteraan hewan

Di balik bahaya kesehatan ini, ada hal yang musti dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk mengonsumsi daging anjing. Anjing tak sekadar hewan peliharaan, tapi juga kawan manusia.

Karin Franken, pendiri Jakarta Animal Aid Network sekaligus salah satu inisiator gerakan DMFI mengatakan bahwa proses yang harus dilalui anjing sebelum sampai ke piring jauh dari kata manusiawi.

Pihaknya sempat melakukan investigasi terhadap penyuplai daging anjing di Jakarta. Dalam sepekan, ada 2-3 kali pengiriman anjing-anjing untuk dikonsumsi yang terdiri dari 30-40 ekor anjing dalam sekali kirim.

"Kami lihat cara potongnya, bagaimana cara mereka memperlakukan anjing sangat kejam. Sisanya yang tidak terpakai dibuang ke got. Tak ada standar kebersihan," ujar Karin dalam kesempatan serupa.

Dengan cara sedemikian rupa, kesejahteraan anjing terenggut. Dewan Penasihat Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, dr Wiwiek Bagja, menuturkan bahwa seseorang perlu memperhatikan kesejahteraan hewan, termasuk anjing. Kesejahteraan, lanjutnya, tak melulu soal hewan yang dipelihara.

Terminologi kesejahteraan hewan sudah disepakati secara global oleh World Animal Health Organization (WAHO).

"Ada lima prinsip untuk hewan, yakni bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari ketidaknyamanan atau penyiksaan fisik, bebas dari sakit, bebas untuk mengekspresikan perilaku alami, dan bebas dari rasa tertekan," papar Wiwiek.

Konsumsi daging anjing, kata Wiwiek, jelas telah melanggar prinsip-prinsip kesejahteraan hewan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan bahkan tak menyebut daging anjing ke dalam kategori pangan.

Menurut Wiwiek, ada tiga hal yang perlu diperjuangkan dalam hal ini. "Payung hukum, manusia yang beretika, dan pendekatan ilmiah," katanya.

Pendekatan ilmiah diperlukan untuk menggaungkan bahwa konsumsi daging anjing tak terbukti secara medis mampu meredakan beberapa jenis penyakit.

Sebagaimana diketahui, banyak orang beranggapan bahwa konsumsi daging anjing mampu mengatasi asma, beberapa alergi, hingga meningkatkan gairah seksual.

Tapi, bagi Wiwiek, kabar-kabar itu cuma mitos belaka, sebab daging anjing justru berbahaya bagi tubuh. "Banyak pengaruh mitos karena ingin jualannya laku," kata dia. (Sumber:CNN)


Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 ERA JATENG | All Right Reserved